Annalakshmi : konsep beda sebuah restoran

August 30, 2005

indian food

Name Annalakshmi Vegetarian Indian Restaurant
Address 5 Coleman Street, Level 2, Exelsior Hotel and Shopping Centre
Phone +65 339 9993
Web www. annalakshmi.com.sg
Date 26 August 2005 at 19.00-19.45
Cost SGD30 for two

Ini adalah pengalaman pertama menikmati reataurant India di tengah kota Singapura. Sebelumnya Vansh restaurant yang selalu jadi langganan kami karena letaknya di dekat Tanjung Rhu. Seorang kawan bisnis memberikan referensi tentang Annalakshmi. Ini karena konsep pengelolannya yang berbeda. Tidak ada menu dan membayar sesuka anda. Koq bisa ?

Restaurant ini adalah bagian dari Temple of Fine Arts (TFA) yang memulai kegiatan keagamaannya 20 tahun lalu. Jadi restaurant ini didirikan untuk kegiatan amal. Baik waitress atau chef adalah sukarelawan. Menu yang dihidangkanpun tidak pasti, bergantung volunteer yang bekerja.

Sistem makan adalah prasmanan. Ada seperti Thali yang pernah saya icip di Little India. Isinya berupa nasi, dhal (kari dengan kentang rebus dihaluskan dan lentil putih), Channa (kari coklat dengan rasa cengkeh), yogurt, biryani (nasi kuning), cucumber raita (sejenis acar dengan yogurt), naan roti bakar (garlic dan plain), dan pappdam (renyah seperti krupuk).

Sebuah sajian yang mengingatkan akan sesajen Bali adalah urap kacang panjang yang dipotong amat kecil. Juga salad dari tauge, ketimun, dan cabe hijau sungguh sangat berbeda. Sebagai penutup saya mencoba Lassi minuman yogurt dengan rasa mangga. Ada juga semacam short bread bernama Mysore. Sebuah puding bernama Gulab jamun yang aneh berbentuk bulatan yang ternyata dari short bread dengan aroma cinamon dan dimasukkan dalam syrup.

Pertanyaan selanjutnya adalah : berapa dollar kita musti bayar ? Setelah timbang menimbang kita memberi SGD30 sebagai terimakasih atas hidangan yang mengesankan

Sore itu

August 26, 2005

kopi

Pukul 6pm di sudut Starbuck

Tatapannya sangat melukai. Duduk dengan gelisah sembari batang rokoknya terus dimainkan. Capucinno di depannya hampir separuh habis. Dengus asap serasa memenuhi dadaku. Rasa latte di lidahku mendadak menjadi seperti abu sigaret. Kering dan menyesakkan.

“Pa kabar Bud ?”
Hanya atmosfer bersuara. Menatapku sekali lagi dengan penuh duri. Aku pura-pura tidak melihatnya.

“Apa sih maumu?”
Ho ho…ini dia. Aku sungguh menunggu saat-saat seperti ini. Aku ingin menyungging senyum, tapi kutahan. Malaikat-malaikat sedang tidak bersamaku. Jadi biarkan aku menjadi setannya.

” hmm simple aja. Aku minta kawin”

Ups..ternyata gampang sekali mengatakan ini. Sekilas aku liat reaksinya. Terkejut dengan kilatan mata yang makin tajam menusuk. Oh …aku suka sekali. Lihat sikap duduk makin tak tenang. Mengambil sebatang rokok lagi dan gemetaran menyalakan. Gagal…dan makin kesal.

“Aku ngga minta banyak Bud. Cuma kawin siri aja. Paling tidak kan ini bukan zina. Toh istrimu sudah tahu”

Malaikat mungkin sedang rehat di belahan awan dan setan sedang mengelu-elusku.

“Kalau kau mau tahu, ini gara-gara istrimu juga. Ngapain musti ribut-ribut. Selama ini aku bahagia jadi pacar simpananmu”

Oya tentu kau tak akan cerita pertengkaran hebatmu semalam kan. Pasti istrimu ngamuk dan memintamu meninggalkan aku. Baiklah ini yang kau minta.

“Tapi kau kan janji untuk tidak menemui istriku”

Oh tentu saja tapi itu kan istrimu yang ingin bertemu. Aku? hanya sms yang terus mebombardirku terkadang dengan bahasa yang sungguh tak pantas.

“Aku berjanji padamu, tapi tidak pada istrimu. Dia yang bersikeras menemuiku. Aku bilang untuk apa”

Ah sungguh betapa lihainya aku. Tidak diketahuinya bagaimana kutinggalkan beberapa jejak yang membuat istrimu mulai curiga. Tissue hotel tempat kita kencan, aroma parfum yang tak mungkin disamainya, dan kondom itu ! Oh sungguh kasiannya istrimu Budi.
Mukamu sungguh makin kusut. Entah ini rokok keberapa. Yang pasti udara didepanku jadi keputihan. Kupikir sang malaikat mulai datang. Tapi setan makin mengenduskan isyaratnya.

“Aku bisa saja meninggalkanmu Bud. Toh kita tidak saling tergantung finansial. Kalau kawin siri saja istrimu ngga mengijinkan. Ya sudah sekian aja”

Matamu mulai melunak, bahkan tubuhmu mulai tenang. Senyum tipis menyungging bahkan tanganmu meraihku. Dibelainya dengan manja. Ah…sungguh artificial.

“Ngga bisa gitu Ayu. Aku mencintaimu. Ini kan masih menggocangkan rumah tangga kami”.

Ah kapan kau berpikir ini akan membuat rumah tanggamu berantakan. Sejak pertemuan bisnis di Bali itu? Bangsat….sedetikpun kau tak memikirkan istrimu ketika mencumbuku. Sungguh kau bukan laki-laki yang kuinginkan lagi. Terlalu lemah..tipikal pecundang. Aku berdoa untuk malaikat agar tak datang.

“Aku ngga mau menunggu Budi. Sekarang atau tidak sama sekali”
…..ah kilat mata hitammu makin tak karuan, gengaman makin erat. Kutepis seketika. Aku beranjak.

“Kupikir sekian saja Bud. Bukan karena aku kasian pada istrimu, atau mencintaimu. Ini karena kau tak sekuat yang kubayangkan”

Masih kudengar setan-setan itu tertawa.

you are a slut

August 24, 2005

slut

Slut is a slang term used to indicate a person who has frequent sexual relationships with different people, especially short-term affairs. Coming from the late Middle English slutte (meaning “mud”) the term is usually applied to women (and can be compared to the more negative slag), but is often used in the gay male and bisexual communities about people who are promiscuous in that they have, or are reputed to have, many sexual partners, or whose sexuality is voracious, indiscriminate, and shameful. …..in usage taken from the book The Ethical Slut, the term has been reclaimed as an expression of choice to openly have multiple partners, and revel in that choice: “A slut is a person of any gender who has the courage to lead life according to the radical proposition that sex is nice and pleasure is good for you” by Wikipedia

Batasaan lonte dengan murahan susah sekali. Seorang kawan yang mempunyai pacar sangat-sangat sexy mengeluhkan itu. Si cewek yang orang Fillipino ini sungguh suka mengumbar bagian tubuhnya. Bahkan untuk standar barat sekalipun.

Dalam pandangan pertama dia memang mirip wanita di jalan. Bikini dengan skimpy skirt yang tembus pandang. Top dengan warna pink menantang. Cleavage yang dibiarkan begitu saja. Woww laki2 mana yang ngga nengok. Sebagai perempuan saya berusaha positif. Mungkin dia confidence dengan tubuhnya. Mungkin dia memang suka gaya itu. Jadi saya putuskan untuk mengenalnya lebih lanjut.

Dia suster …oh merawat orang-orang tua tepatnya. Gila pesta dan minum. Hapal semua club dan tempat mangkal yang OK. Pernah mengunjungi ajang full moon party di pantai2 negara Thailand ataupun dari negeri asalnya. Bagi temanku cewek ini sungguh cool. Karena memang keduanya berhobi sama. Party goers… . Dalam acara semalam tanpa ragu si cewek ini menjadi semacam bartender. Meramu segala macam minuman. Terkadang jika ‘kebelet’ langsung terjun ke kolam renang dengan baju yang dipakainya. Beberapa pandang usil laki2 di ruangan seolah tak dihiraukannya. Beberapa perempuan dengan dandanan terhormat melirik tak senang (ada nada kecemburuan mungkin). Sedang saya ? Hmm terus saja mengamati *andai aku seperti dia hiks..kiamat kan datang*

Mungkin kawan aku ingin sekali opini dari sesama perempuan. Karena hampir saja memukul kawan laki2nya karena berkomentar ngawur ttg cewek itu. Untuk itu aku harus sedikit diplomatis. Jujur saja dia memang cewek murahan. Uff…laki-laki selalu sulit dipuaskan.

A Walk in the Woods

August 23, 2005

wakl in the woods

Penerbit : Black Swan (1998)
Pengarang : Bill Bryson
Bahasa : Inggris
Pages : 350 hal
ISBN 0-552-99702-1

Pertama kali kenal dengan Bill Bryson sebenarnya dari buku : A Short History of Nearly Everything yang menceritakan tentang apa saja dalam bahasa populer. Ternyata setelah menggali koleksi orang lain
ketemu juga karya ini. Lebih lucunya buku ini akan dijadikan film dengan Robert Redford dan Paul Newman sebagai aktornya. Sebuah film yang menjadi reuni bagi mereka setelah Butch Cassidy and Sundance Kid th 1973.

Buku ini mengisahkan sang pengarang Bill yang sedang mengalami krisis middle ages (hekss) dan memutuskan untuk melakukan petualangan di Appalachian Trail. Membentang dari Georgia di Deep South hingga Maine tak jauh dari perbatasan Canada adalah sebuah trail yang sangat menantang. Setelah tinggal hampir 20 tahun di North Yorkshire UK Bill mencoba menggali kembali akar ‘amerika’nya. Dengan membeli alat2 outdoor tercanggih Bryson mencoba menjejak keganasan Appalachian Trail.

Dengan ditemani Katz, kawan sekolah dan backpacker Bryson tidak mampu menyelesaikan trail ini. Ia juga menghindari berbagai kondisi yang sulit dengan naik taksi ! Dan memutuskan kembali ke keluarganya di New England ketika merasa tak mampu lagi.

Buku ini sungguh sangat hilarious dan memberikan sisi lain travel books yang pernah saya baca. Menunjukkan bahwa untuk menulis sebuah buku yang bagus tidak harus sukses melakukan sesuatu. Kegagalan bahkan bisa menjadi cerita yang sungguh menawan. Karakter dua orang ini sangat kuat. Bryson bertutur jujur tentang perjalanan mereka tanpa ada ketersinggungan secara personel dengan Katz.

Gantsara : Belajar Menaklukan Diri Sendiri

gantsara

Penerbit : Harper Collins New Zealand (2004)
Paperback : 237 hal
Bahasa : Inggris
ISBN : 1 86950 520 4
Harga : SGD8

Saya menemukan buku ini di tumpukan buku2 yang di jual di Bras Basah Complex. Nanar saya menatap tak percaya. Ah bahkan di amazon-pun sulit sekali mendapat referensi buku ini. Entahlah mungkin karena tidak terlalu populer.

Gantsara dalam bahasa Mongolia berarti sendirian. Di tahun 1992 Ian melakukannya ketika saat itu Mongolia belum terbuka untuk turisme. Belum ada peta yang memadai. Sebagian peta bahkan ditulis : Data Incomplete. Rentang perjalanan adalah dari Ulaan Bataar hingga Tavan Bogd melintasi padang dan pegunungan yang mengesankan.

Buku diawali dengan argumentasi terhadap diri sendiri tentang motivasinya. Terlalu pendek untuk menjabarkan tapi paling tidak menampilkan karakter Ian. Seorang 24 tahun Kiwi yang ambisius dan terkadang terlalu keras kepala. Dengan bekal sedikit bahasa yang ia pelajari selama enam minggu persiapan, Ian mulai memasuki budaya nomaden suku Mongol.

Ia harus berjuang menaklukan kuda karena sungguh ia tak terlalu lihai mengendalikannya. Hidup menumpang dari ger (tenda) satu dengan yang lainnyaa. Mengganti kuda lagi, menghalau ekstrem suhu, menikmati teh cina dan kembali naik kuda. Treknya sendiri sungguh menantang. Bukan saja sangat panjang, namun benar-benar menggambarkan negeri Mongolia yang masih perawan. Kehidupan dari dekat suku Mongol tentang pola berpindah mereka. Bagaimana mereka bahkan bisa bertahan dengan hanya berbekal ternak menempuhi perjalanan seumur hidup mereka. Bagi Ian itu adalah kehormatan buat mereka.